Mati Rasa, Ada Apa Dengan San Suu kyi

Beberapa pekan terakhir memang nama Aung San Suu Kyi menjadi pembicaraan di berbagai media dunia menyangkut krisis kemanusiaan yang terjadi di Rakhine, pembantaian suku Rohingya.

Padahal untuk saya Myanmar salah satu destinasi yang cukup menarik dengan budaya lokalnya yang kental, sayang krisis yang terjadi di negara ini membuat saya  men-skip dulu Myanmar untuk dikunjungi.

Secangkir teh hijau di meja kerja suatu pagi , saat saya membuka salah satu sosial media yang saya pakai, saya mendapatkan satu link menarik , begini judulnya “petisi : tarik kembali nobel perdamaian Aung San Suu kyi”.

Kalau bicara masalah krisis kemanusiaan, bukan terjadi di negara Myammar saja, belahan dunia lainpun banyak mengalaminya, tapi kenapa kasus Rohingya mendapat perhatian banyak dari dunia, termasuk negara kita Indonesia.

Selain karena menyangkut masalah agama, hal yang membuat miris dan menjadi sorotan dunia adalah Aung san suu kyi yang saat ini menjabat sebagai State Counsellor atau penasihat negara atau perdana menteri adalah penerima nobel perdamaian pada tahun 1991 atas perjuangannya dalam memajukan demokrasi di negaranya tanpa menggunakan kekerasan dalam menentang kekuasaan rezim militer.

Saya sendiri baru tahu sosok Aung san suu kyi, ketika biografinya di filmkan dengan judul The Lady. Semua perempuan yang melihat jalan hidupnya pasti akan terkagum-kagum, termasuk saya, dalam kacamata saya dia adalah salah satu perempuan tangguh.

Aung san suu kyi, menikah, punya anak dan tinggal di Inggris. Dia kembali ke Myanmar karena Ibunya sedang sakit keras, keberadaannya di Myanmar tidak lepas dari pengawasan militer, padahal saat itu Aung san suu kyi hanya seorang anak, ibu dan istri.

Keberadaannya di anggap mengancam militer Myanmar karena Aung san suu kyi adalah anak dari Aung san, salah satu orang yang merundingkan kemerdekaan dari Inggris dan terbunuh oleh rezim berkuasa.

Karena kelicikan kaum militer, akhirnya Aung san suu kyi menjadi tahanan rumah selama belasan tahun, hak anak dan suaminya pun di cabut. Aung san suu kyi menghadapi tekanan dari militer tanpa anak dan suami. Pada saat suaminya sakit keras dan meninggal pun Aung san suu kyi lebih memilih bertahan di Myanmar, karena pilihannya, sekali keluar dari Myanmar selamanya dia tidak akan bisa kembali.

Kekerasan hati nya saat itu mungkin membuat kagum semua perempuan, dia menyembunyikan tangisannya saat suaminya meninggal dan tidak bisa bertemu anak-anaknya selama bertahun-tahun.

Sebagai perempuan yang mendapatkan tekanan secara fisik dan psikis mungkin sudah menjadikan Aung san suu kyi menjadi perempuan tangguh, sangat tangguh, hatinya tak tergoyahkan, dia tidak terenyuh lagi saat kekerasan terjadi di sekitarnya. Saya rasa saat ini dia sudah mati rasa.

Aung san suu kyi mungkin akan menyelesaikan masalah di negaranya dengan caranya sendiri. Saya berharap krisis ini bisa segera berakhir.

Saya berdiri bersama ribuan orang lainnya untuk ikut menandatangi “petisi : tarik kembali nobel perdamaian Aung San Suu kyi”. Karena saya menganggap nobel itu hanya satu upaya dari suami Aung san suu kyi agar istrinya terlindungi selama menjadi tahanan militer. Berkat kerja keras suaminya, membuat esai tentang dirinya dan mendaftarkan dia sebagai salah penerima nobel perdamaian. Mungkin ini yang menyebabkan Aung san suu kyi tidak mengerti dan paham benar apa artinya sebuah nobel untuknya.

 

“Berbicara mati rasa, terkadang mati rasa bisa menjadi kekuatan bagi perempuan. Ada perempuan yang mati rasa menjadi begitu kuat,  dipukul dengan keraspun tidak akan berasa bahkan sampai berdarah-darah sekalipun, namanya juga mati rasa otomatis tidak bisa merasakan apa-apa, masih berani dengan perempuan yang mati rasa?”

 

 

About Rina

Halo,, saya Rina Penulis di blog ini, dan Saya sangat suka dengan teh.

View all posts by Rina →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *